Caping

Malam ini, saat sedang berdesakkan di kereta sepulang kantor, tiba-tiba saya teringat salah satu catatan pinggir (caping) Goenawan Mohamad yang pernah saya temukan di masa kuliah. Tiba-tiba saja muncul di ingatan, padahal beberapa waktu ini saya sama sekali tidak bersinggungan dengan apapun yang berkaitan dengan GM dan tulisan-tulisannya. Saya ingat dulu pertama kali membaca caping tersebut, entah mengapa dan bagaimana, saya merasa dipahami.

Malam tadi, ketika caping itu kembali mencuat dalam ingatan, segera saya mencarinya di google. Klik. Muncul. Pada akhirnya, di tengah deru kereta dan kicau penumpang lainnya, saya mulai bisa mengenali dan mengerti perasaan dipahami yang dulu muncul. Saya taruh di sini ya tulisan lengkapnya (sumber: dari sini).


Liquor is quicker 
Ogden Nash
Saya menyukai pagi: dengan gerimis atau sinar matahari, saya akan berjalan mengikuti bayang-bayang pohon sepanjang alur, atau sebaliknya, duduk tiga menit memejamkan mata di depan jendela terbuka. Ada sisa harum kemuning yang mekar semalam dan bau daun-daun yang lumat di rumput becek. Ada suara burung yang cerewet, ya, pagi adalah suara burung yang cerewet. Juga suara tokek, bunyi berat yang sabar satu demi satu, seakan-akan melawan kecepatan detik.
Mungkin saya menyukai pagi karena di sana saya berlindung dari kecepatan detik.
Meskipun bisa tak bertahan. Sebab jika pada menit berikutnya saya buka laptop, akan menghambur apa yang disebut “informasi”, ribuan kata, suara, angka, dan gambar yang desak-mendesak, singkir-menyingkirkan: kabar dari situs dot.com, salam dan umpatan dan keluhan minta perhatian di Twitter, foto-foto pamer diri di Facebook, pesan-pesan sejenak dari teman dan orang yang tak dikenal di telepon seluler. Mereka melintas. Mereka tenggelam. Mereka diingat, tak lengkap. Mereka mungkin statemen, mungkin salah paham yang bergegas. Mereka berubah.
Di depan laptop, dunia melawan pagi.
Di depan laptop, di luar iPad, di luar kamar, kita diproyeksikan seolah-olah terancam: makhluk yang akan runtuh bila tak bergerak cepat. Klaus Schwab, pendiri World Economic Forum, menyebarluaskan kecemasan itu: “Kita bergerak dari sebuah dunia di mana yang besar memakan yang kecil ke arah dunia di mana yang cepat menelan yang pelan.”
Saya tak ingin mengamini itu. Kecepatan itu riuh-rendah. Saya lebih menginginkan apa yang digambarkan Chesterton sebagai “the gift of loneliness, which is the gift of liberty”. Kesunyian itu mengandung karunia: kebebasan.
Tapi memang ada, memang makin banyak, orang yang menampik karunia itu: mereka yang waswas bila tak melakukan apa-apa, mereka yang tak mengerti bagaimana duduk dengan mata terpejam mendengarkan bunyi hujan dan suara katak di selokan, orang-orang yang mau cepat-cepat mengakhiri sunyi, orang-orang yang dikerubuti waktu yang selalu dihitung.
Saya tak pernah merasa merdeka dengan waktu yang dihitung, bukan karena tiap kali dikejar deadline, tapi mungkin karena saya datang dari generasi yang berbeda. Di waktu kecil, di malam hari, sambil terbaring di ambin, saya sering mendengarkan suara orang ura-ura membawakan Wedhatama dalam tembang. Ada kalimat “sepa sepi lir sepah samun” yang tak saya pahami artinya tapi saya rasakan sendunya. Saya juga datang dari sebuah masa ketika sehabis isya anak-anak tergolek di samping ibu, dibimbing ke mimpi dengan dongeng yang panjang.
Mungkin sebab itu saya bisa mengerti mengapa Carl Honor berubah. Ia koresponden pelbagai surat kabar, antara lain The Economist, yang menulis berita-berita luar negeri. Ia mengejar (atau dikejar?) berita dari kota ke kota asing, masuk-keluar bandara dan pesawat, terus-menerus menelepon editor dan sumber-sumber berita (dan tak lagi mendengarkan musik di Walkman-nya), tak sempat pula bercerita panjang untuk mengantar tidur anak-anaknya.
Pada suatu saat, ketika ia sedang antre di sebuah bandara, terbaca olehnya sebuah tulisan, “The One-Minute Bedtime Story”. Eureka! Ia bergembira: akhirnya orang bisa membuat dongeng yang cuma satu menit panjangnya. Ia perlu kemudahan seperti itu, sebab ia tak bisa melayani permintaan anak-anaknya untuk membawakan cerita yang asyik. Hampir saban malam ia harus menulis, mengirim artikelnya, menjawab sur-el, membaca kabar, dan berdiskusi.
Tapi bagaimana membawakan dongeng Hans Christian Andersen dalam 60 detik?
Hanya dalam gerak yang pelan, kita bisa menyusuri hidup Si Thumbelina. Sebuah dongeng akan mati ketika ia jadi ikhtisar. Ia tak hidup dengan ketakjuban dari saat ke saat, sejak si tokoh alit lahir, diculik katak, diselamatkan ikan, kupu-kupu, dan tikus, dan akhirnya mendapatkan pangeran peri-bunga sebagai pasangannya, seraya si burung biru patah hati menyaksikannya pergi.
Carl Honor pun berubah. Ia menulis buku In Praise of Slowness.
Yang agak kurang ditekankan Honor ialah hubungan gerak yang tak terburu-buru dengan karunia kesunyian dan kebebasan, sesuatu yang telah rusak karena zaman berubah dan manusia resah untuk bekerja dan bekerja. Nietzsche pernah menyebutnya sebagai “kehausan Amerika”. Bujukan-bujukan berlomba cepat (“liquor is quicker”, kata penyair Amerika, Ogden Nash), juga pertukaran.
Dalam proses itu, hilang kemampuan orang menghayati waktu sebagai ketakjuban yang selalu baru. Orang pun terus-menerus berbicara soal “kurang waktu”. Tak ada lagi yang hendak memasuki keheningan “vita meditativa”. Tak ada renungan sebelum tindakan.
Dan lahirlah Twitter, Facebook, san-dek, yang dengan seketika menembakkan kata. Sementara dulu tiap ekspresi yang akan disiarkan harus menempuh prosedur berlapis, ada editor, ada penerbit, ada penyebar, kini semua itu diterabas. Bersaing cepat, berlomba menarik perhatian, bersaing mau diakui, berlomba teriak. Aku menggebrak, maka aku ada.
Kecepatan dan kekuatan bisa efektif seperti peluru. Tapi peluru tak perlu nalar dan tak menumbuhkan tukar pikiran. “Media sosial” akhirnya hanya (mengutip seorang teman yang mengutip Macbeth untuk ini) “full of sound and fury, signifying nothing”.
Maka saya menyukai pagi. Sesekali masih ada sisa mimpi, ingatan akan dongeng ayah, ninabobok ibu, gema di kepala dari sebuah lagu, novel yang semalam hadir dalam kesendirian dan kesunyian dalam karunia kebebasan.
Goenawan Mohamad

“Saya tak pernah merasa merdeka dengan waktu yang dihitung…..”

Kok menusuk tepat di dada hahaha.

Tahun 2016 ini gila sekali. Menjelang akhir tahun kok rasanya makin sulit bernapas (selain memang karena sedang terkena geng batuk-pilek-demam yang bikin susah napas). Jeda ada di mana, ya?

Advertisements

Don’t Say I Didn’t Warn You

Hi. How are you?

I’ve always wanted to be more cheerful in this blog by trying to write happy posts but I am sorry that it seems I always fail miserably and this blog always ends up having cheerless posts (or as some people say “blognya galau amat, Tal”) (but, really(?) Does my blog sound too galau(??)). I don’t mean to drag you all into the negativity, I swear. But as I describe this blog as “sebuah eskapisme” ever since I made it, I hope you all could make sense of that just like the other human being, I also need to deal with all the anxieties constantly creeping into my life and for that, blog has always been my first go-to aid. I remember stating to be more optimistic towards life in some of the previous posts, and I’m still struggling for that. However, as you might know, it’s never been easy to fully comprehend a concept you’ve never been familiar with, let alone applying it. Or maybe it’s just the product of what might be some long-held burdens so it’s unconsciously shown in all of my writings thus some might perceive them spreading the negative vibes, I don’t know.

And now that December has come, I’m afraid more cheerless posts are coming since December has always been a melancholy and pensive month for me.

Bear with me, please?

Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir… Di ujung sana, Tuhan lebih tahu.

– Goenawan Mohamad

Bahasa

Kemarin sore saya mengunjungi pameran pendidikan tinggi di Kuningan bersama dengan teman-teman. Setelahnya, kami memutuskan untuk pergi makan sambil saling berbagi kabar alias curcol berjamaah. Paska lulus Agustus kemarin, tiap orang udah mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing, jadi waktu untuk bersua pun ga seleluasa saat kuliah dulu. Jadi, pas lagi pada bisa ketemu, ya dimanfaatkan banget momennya haha. Kalau dulu tiap kumpul masih suka bahas yang agak-agak sampah, bahasan obrolan kemarin didominasi oleh rencana hidup ke depan :)) dari semua hal yang dibahas, ada satu subtopik partikular which five of us can relate to: bahasa.
Yang satu, baru saja mendapatkan hasil tes IELTSnya dengan skor ciamik tanpa IELTS preparation secara formal (you’re going places and distances, lad), yang satu les Bahasa Inggris untuk semakin memperkuat grammarnya, yang satu pengen melancarkan Bahasa Inggrisnya lagi untuk mempercantik gelar highest GPAnya (wakaka engga deng bukan itu alasannya), yang satu dengar-dengar udah sertifikasi French dan fasih Italian juga (now that’s cool) dan udah ada rencana mau tes IELTS dalam waktu dekat, kemudian tinggallah saya yang masih terpukul karena merasa dikhianati tes TOEFL mendadak yang baru saja dikerjakan pagi harinya. Intinya, semua menganggap bahwa bahasa adalah hal penting yang mampu menunjang rencana hidup ke depan.
Kemudian, yang baru saja memperoleh skor IELTSnya menjadi sorotan malam itu. Jelaslah dibombardir pertanyaan ini-itu sekaligus diminta tips and trick, sambil kalau bisa saya juga pengen minta otaknya dikit biar ketularan dapat skor tinggi. Hal yang saya tangkap dari diskusi semalam adalah bahwa kuncinya ya… punya alasan dan determinasi yang kuat kenapa belajar bahasa ini jadi penting banget harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (yang bagi saya, it’s not simple at all, if truth be told).
Teman-teman saya more or less udah punya rencana dengan hidupnya masing-masing. Mereka tahu mau ngapain, so it’ll be helpful in designing their grand plans and break them down to the last detail. Sementara itu, saya jadi mempertanyakan lagi, determinasi saya mau ke mana sih? Mau ngapain? Bagaimana?
Saya ingat sekali dulu waktu SMA, motivasi saya belajar Bahasa Inggris adalah sesederhana agar saya bisa paham kalau nonton The Big Bang Theory dan How I Met Your Mother tanpa subtitle :)) Selain itu agar saya bisa menikmati stand up comedy yang dibawakan Jerry Seinfeld, Woody Allen, dan beberapa comic lainnya. Yha agak-agak dangkal memang hahaha. Kalau sekarang motivasinya apa? Entah, sepertinya saya harus menyiapkan diri untuk berbicara dengan diri sendiri (hal yang sebetulnya sudah lama saya hindari). Saya paham bahwa bermacam tips and trick yang saya minta pun sebetulnya tidak akan membawa saya ke mana-mana kalau saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Sedih ya, no matter how far you go asking around for some hints, it’s always been inside you where you have to look at first. Hehe. (MASA YA SEKARANG TIBA-TIBA LAGU YANG KEPUTER DI ITUNES SAYA DON’T WORRY NYA LEE JUCK).

December is just around the corner already. Saya cuma berharap before the end of the year, saya udah ga se-clueless sekarang 🙃

Dan untuk teman-teman, y’all are way ahead, please keep going to where you aspire to be. I’m sure you’ll be there in the blink of an eye.

(wow a rare speck of positivity in this blog, me so proud).

A Final Goodbye

Hi.
I’ve only known you for around 4 years and we were not even close.
I remember the first time I knew you was when our batch gathered up for the first time.
You seemed funny and easy going.
Later I found out that to say that you are smart is understatement.
Throughout college, we were not in the same peer group,
and I know nothing about your personal life.
All I see was only what you allowed everyone else to see:
the outgoing, fun, intelligent, funny, sarcastic, that you are.
We had ever been in the same projects and the more I knew that you were way ahead of me.
I don’t always get your thoughts nor your reasoning.
But then I knew that you had always been a very cognitively active person.
And that’s what fascinates me. You always knew this and that, catching up to the latest issues, ranging from trivial fact to many important subjects; science, psychology, philosophy, economy, language, and so many things else.
You seemed to know a lot. By a lot I mean, a real lot.
Then we met again in the research club that you made.
Being the awkward potato I was, I didn’t think I could catch with you (and the other members). But surprise, surprise, you asked me to join the club again the following year. This time to help you running the club.
More often than not I found myself scared not being able to live up to your expectations.
Really. I was scared that I could not do anything good more or less because I know that you always hold a high standard for everything you do.
The last time I met you was last Friday at campus. We prepared the material for an event together. At the same time I was like catching up your life these days. You told me you were busy finishing your final thesis and doing some other projects while preparing to go to UK to attend a conference next month.
As usual you also told me many things I don’t know. About this and that.
Never once it occurred to me that it would be the last time I saw you.
When I read the news that you were already gone, I was numb.
Is this for fucking real?
These four years only gave me much less than a bit peek of your life.
Up until now I’ve never really known you.
I never knew what you felt or what you were facing through,
but whatever it is, I hope now it’s not painful anymore, Sa.

Rest in peace.
(1995-2016)

Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan*

Kita tak semestinya berpijak di antara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri di tengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta

Betapa keragu-raguan tidak henti-hentinya menggerogotiku sejak awal perjumpaanku denganmu dalam kata.
Terlebih saat aku mengetahui satu hal yang paling krusial dalam hidupmu, dalam hidup kita.
Kita berbeda; aku tahu itu. Perkataan “perbedaan ada agar dapat saling melengkapi” sudah sangat sering masuk ke telingaku. Aku setuju, tapi sayangnya bukan dalam hal krusial seperti yang satu ini. Bukankah mencoba membuat dua garis sejajar agar bersinggungan adalah hal yang sia-sia?

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap

Senja adalah waktu yang paling rawan untuk rindu datang menyergap. Entah sudah berapa senja yang aku nikmati dengan membayangkan apa-apa yang kau ceritakan melalui aksara-aksara yang lahir dari tanganmu. Dan senja adalah waktu yang paling tepat untuk meluruhkan segala kenestapaan yang ada. Membiarkannya disantap langit merah keunguan sebelum ia kembali hinggap dalam diri dan mencipta duka. Aku tahu seharusnya aku tak mengeluh pada senja dan menodai kecantikannya, tapi kedamaian yang ditawarkan olehnya membuat tabung penahan rinduku meledak tanpa bisa kutahan dan menguarkan segala kepingan rasa di dalamnya. Mungkin aku harus menyingkir sejenak dari senja, menjauhkan nestapa dari keelokan latar magenta, menyiapkan diri untuk menerima bahwa kita berbeda, terlalu berbeda.

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa ke mana

Sampai sekarang aku masih mencoba melepaskan diri dari sisa-sisa kemurungan yang terus merambat, meski usaha-usahaku sebelumnya malah membawaku kembali pada gumpalan keresahan dan pertanyaan yang tak kunjung aku temukan jawabannya: mengapa kita berbeda?
Aku harus mulai membiasakan diri untuk biasa saja saat melihatmu, mengabaikan dentuman bertalu-talu yang berteriak dari dalam sini dan membuangnya entah ke mana.

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak di dalam perjumpaan abadi

Kalau semua ini memang bertujuan mengajariku tentang keikhlasan, semoga aku akan benar-benar mengerti untuk apa perbedaan di antara kita diciptakan sehingga aku sanggup merelakanmu pergi ke arah yang berlawanan denganku. Dan aku tidak akan banyak berharap bahwa kelak kita bisa kembali berjumpa di pertemuan yang entah di mana.

04 September 2013
*Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan adalah lagu milik Payung Teduh // Tulisan diimpor dari sini.

thank you letter

it’s been one heck of a ride. thank you for surviving these past four years. you might still have some unanswered questions lingered in your head but it’s ok not all questions easily find their way to their answers. keep going, take your time. thank you for pushing yourself through instead of leaving everything off when it was the only thing you wanted to do. remember that one time you hang your life in between? it all now comes to an end and becomes another past you have been through. good luck and i hope you know where exactly you’re going from this point, self.