Don’t Say I Didn’t Warn You

Hi. How are you?

I’ve always wanted to be more cheerful in this blog by trying to write happy posts but I am sorry that it seems I always fail miserably and this blog always ends up having cheerless posts (or as some people say “blognya galau amat, Tal”) (but, really(?) Does my blog sound too galau(??)). I don’t mean to drag you all into the negativity, I swear. But as I describe this blog as “sebuah eskapisme” ever since I made it, I hope you all could make sense of that just like the other human being, I also need to deal with all the anxieties constantly creeping into my life and for that, blog has always been my first go-to aid. I remember stating to be more optimistic towards life in some of the previous posts, and I’m still struggling for that. However, as you might know, it’s never been easy to fully comprehend a concept you’ve never been familiar with, let alone applying it. Or maybe it’s just the product of what might be some long-held burdens so it’s unconsciously shown in all of my writings thus some might perceive them spreading the negative vibes, I don’t know.

And now that December has come, I’m afraid more cheerless posts are coming since December has always been a melancholy and pensive month for me.

Bear with me, please?

Advertisements

Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir… Di ujung sana, Tuhan lebih tahu.

– Goenawan Mohamad

Bahasa

Kemarin sore saya mengunjungi pameran pendidikan tinggi di Kuningan bersama dengan teman-teman. Setelahnya, kami memutuskan untuk pergi makan sambil saling berbagi kabar alias curcol berjamaah. Paska lulus Agustus kemarin, tiap orang udah mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing, jadi waktu untuk bersua pun ga seleluasa saat kuliah dulu. Jadi, pas lagi pada bisa ketemu, ya dimanfaatkan banget momennya haha. Kalau dulu tiap kumpul masih suka bahas yang agak-agak sampah, bahasan obrolan kemarin didominasi oleh rencana hidup ke depan :)) dari semua hal yang dibahas, ada satu subtopik partikular which five of us can relate to: bahasa.
Yang satu, baru saja mendapatkan hasil tes IELTSnya dengan skor ciamik tanpa IELTS preparation secara formal (you’re going places and distances, lad), yang satu les Bahasa Inggris untuk semakin memperkuat grammarnya, yang satu pengen melancarkan Bahasa Inggrisnya lagi untuk mempercantik gelar highest GPAnya (wakaka engga deng bukan itu alasannya), yang satu dengar-dengar udah sertifikasi French dan fasih Italian juga (now that’s cool) dan udah ada rencana mau tes IELTS dalam waktu dekat, kemudian tinggallah saya yang masih terpukul karena merasa dikhianati tes TOEFL mendadak yang baru saja dikerjakan pagi harinya. Intinya, semua menganggap bahwa bahasa adalah hal penting yang mampu menunjang rencana hidup ke depan.
Kemudian, yang baru saja memperoleh skor IELTSnya menjadi sorotan malam itu. Jelaslah dibombardir pertanyaan ini-itu sekaligus diminta tips and trick, sambil kalau bisa saya juga pengen minta otaknya dikit biar ketularan dapat skor tinggi. Hal yang saya tangkap dari diskusi semalam adalah bahwa kuncinya ya… punya alasan dan determinasi yang kuat kenapa belajar bahasa ini jadi penting banget harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (yang bagi saya, it’s not simple at all, if truth be told).
Teman-teman saya more or less udah punya rencana dengan hidupnya masing-masing. Mereka tahu mau ngapain, so it’ll be helpful in designing their grand plans and break them down to the last detail. Sementara itu, saya jadi mempertanyakan lagi, determinasi saya mau ke mana sih? Mau ngapain? Bagaimana?
Saya ingat sekali dulu waktu SMA, motivasi saya belajar Bahasa Inggris adalah sesederhana agar saya bisa paham kalau nonton The Big Bang Theory dan How I Met Your Mother tanpa subtitle :)) Selain itu agar saya bisa menikmati stand up comedy yang dibawakan Jerry Seinfeld, Woody Allen, dan beberapa comic lainnya. Yha agak-agak dangkal memang hahaha. Kalau sekarang motivasinya apa? Entah, sepertinya saya harus menyiapkan diri untuk berbicara dengan diri sendiri (hal yang sebetulnya sudah lama saya hindari). Saya paham bahwa bermacam tips and trick yang saya minta pun sebetulnya tidak akan membawa saya ke mana-mana kalau saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Sedih ya, no matter how far you go asking around for some hints, it’s always been inside you where you have to look at first. Hehe. (MASA YA SEKARANG TIBA-TIBA LAGU YANG KEPUTER DI ITUNES SAYA DON’T WORRY NYA LEE JUCK).

December is just around the corner already. Saya cuma berharap before the end of the year, saya udah ga se-clueless sekarang 🙃

Dan untuk teman-teman, y’all are way ahead, please keep going to where you aspire to be. I’m sure you’ll be there in the blink of an eye.

(wow a rare speck of positivity in this blog, me so proud).

A Final Goodbye

Hi.
I’ve only known you for around 4 years and we were not even close.
I remember the first time I knew you was when our batch gathered up for the first time.
You seemed funny and easy going.
Later I found out that to say that you are smart is understatement.
Throughout college, we were not in the same peer group,
and I know nothing about your personal life.
All I see was only what you allowed everyone else to see:
the outgoing, fun, intelligent, funny, sarcastic, that you are.
We had ever been in the same projects and the more I knew that you were way ahead of me.
I don’t always get your thoughts nor your reasoning.
But then I knew that you had always been a very cognitively active person.
And that’s what fascinates me. You always knew this and that, catching up to the latest issues, ranging from trivial fact to many important subjects; science, psychology, philosophy, economy, language, and so many things else.
You seemed to know a lot. By a lot I mean, a real lot.
Then we met again in the research club that you made.
Being the awkward potato I was, I didn’t think I could catch with you (and the other members). But surprise, surprise, you asked me to join the club again the following year. This time to help you running the club.
More often than not I found myself scared not being able to live up to your expectations.
Really. I was scared that I could not do anything good more or less because I know that you always hold a high standard for everything you do.
The last time I met you was last Friday at campus. We prepared the material for an event together. At the same time I was like catching up your life these days. You told me you were busy finishing your final thesis and doing some other projects while preparing to go to UK to attend a conference next month.
As usual you also told me many things I don’t know. About this and that.
Never once it occurred to me that it would be the last time I saw you.
When I read the news that you were already gone, I was numb.
Is this for fucking real?
These four years only gave me much less than a bit peek of your life.
Up until now I’ve never really known you.
I never knew what you felt or what you were facing through,
but whatever it is, I hope now it’s not painful anymore, Sa.

Rest in peace.
(1995-2016)

Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan*

Kita tak semestinya berpijak di antara
Ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri di tengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta

Betapa keragu-raguan tidak henti-hentinya menggerogotiku sejak awal perjumpaanku denganmu dalam kata.
Terlebih saat aku mengetahui satu hal yang paling krusial dalam hidupmu, dalam hidup kita.
Kita berbeda; aku tahu itu. Perkataan “perbedaan ada agar dapat saling melengkapi” sudah sangat sering masuk ke telingaku. Aku setuju, tapi sayangnya bukan dalam hal krusial seperti yang satu ini. Bukankah mencoba membuat dua garis sejajar agar bersinggungan adalah hal yang sia-sia?

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap

Senja adalah waktu yang paling rawan untuk rindu datang menyergap. Entah sudah berapa senja yang aku nikmati dengan membayangkan apa-apa yang kau ceritakan melalui aksara-aksara yang lahir dari tanganmu. Dan senja adalah waktu yang paling tepat untuk meluruhkan segala kenestapaan yang ada. Membiarkannya disantap langit merah keunguan sebelum ia kembali hinggap dalam diri dan mencipta duka. Aku tahu seharusnya aku tak mengeluh pada senja dan menodai kecantikannya, tapi kedamaian yang ditawarkan olehnya membuat tabung penahan rinduku meledak tanpa bisa kutahan dan menguarkan segala kepingan rasa di dalamnya. Mungkin aku harus menyingkir sejenak dari senja, menjauhkan nestapa dari keelokan latar magenta, menyiapkan diri untuk menerima bahwa kita berbeda, terlalu berbeda.

Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa ke mana

Sampai sekarang aku masih mencoba melepaskan diri dari sisa-sisa kemurungan yang terus merambat, meski usaha-usahaku sebelumnya malah membawaku kembali pada gumpalan keresahan dan pertanyaan yang tak kunjung aku temukan jawabannya: mengapa kita berbeda?
Aku harus mulai membiasakan diri untuk biasa saja saat melihatmu, mengabaikan dentuman bertalu-talu yang berteriak dari dalam sini dan membuangnya entah ke mana.

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak di dalam perjumpaan abadi

Kalau semua ini memang bertujuan mengajariku tentang keikhlasan, semoga aku akan benar-benar mengerti untuk apa perbedaan di antara kita diciptakan sehingga aku sanggup merelakanmu pergi ke arah yang berlawanan denganku. Dan aku tidak akan banyak berharap bahwa kelak kita bisa kembali berjumpa di pertemuan yang entah di mana.

04 September 2013
*Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan adalah lagu milik Payung Teduh // Tulisan diimpor dari sini.

thank you letter

it’s been one heck of a ride. thank you for surviving these past four years. you might still have some unanswered questions lingered in your head but it’s ok not all questions easily find their way to their answers. keep going, take your time. thank you for pushing yourself through instead of leaving everything off when it was the only thing you wanted to do. remember that one time you hang your life in between? it all now comes to an end and becomes another past you have been through. good luck and i hope you know where exactly you’re going from this point, self.

Hello, Nippon!

Tahun ini banyak sekali perubahan yang terjadi ya sampai rasanya saya gak sanggup keep up sama hidup saya sendiri. Salah satu hal yang terjadi tahun ini adalah saya dan dua orang teman akhirnya memutuskan untuk mencoba mengirimkan abstrak penelitian ke konferensi. Telat ya? Yah memang itu alasannya hahaha. Kami merasa empat tahun kuliah kok sayang ya ngga coba ikutan konferensi, dan karena ini tahun terakhir kami, akhirnya yuklah mari maju maju mari maju maju mari maju maju. Semua dimulai saat semester 7. Di pertemuan awal kami membahas tujuan, keinginan, minat, dan ujung-ujungnya melebar ke hal-hal lain di luar riset haha tapi yah yang penting udah bisa menyamakan pandangan sebenarnya kegiatan kami ini mau dibawa kemana (meski masih abstrak bakal seperti apa).

Kemudian datanglah badai semester 7. Untuk anak Psiko UI 2012 pasti mengerti betapa semester 7 adalah semester laknat, termasuk di dalamnya tugas-tugas yang hanya akan selesai ketika semester sudah berakhir. Dengan kesibukan seperti itu, seringkali diskusi kami tertunda dan lebih sering mengobrol via grup di LINE. Akhirnya kami baru benar-benar bisa mengonsep dan melakukan ekseskusi di liburan semester 7. Bagi saya, mungkin tanpa sadar projek ini sekaligus menjadi eskapisme ketika harusnya mulai memikirkan skripsi haha. Ketika sudah selesai, kami mepet sekali mengirimkan abstrak ini ke konferensi tujuan. Setelah itu, waktu rasanya bergulir super cepat dan kami sudah dihadapkan pada s-k-r-i-p-s-i. Saya sendiri rasanya hampir lupa soal pengumuman seleksi abstrak karena tidak pernah ditengok lagi hingga di awal Maret saya mendapatkan sebuah email.

Saya ingat hari itu saya sedang di kampus, mengerjakan ini-itu. Sekitar setengah 3 sore hp saya memunculkan notifikasi ada email masuk. Saya yang sedang berjalan tetiba berhenti ketika melihat nama pengirim email. Selang beberapa lama setelah saya membacanya, hah apaan nih. Masih ga mudeng hahaha. Baru beberapa saat setelah saya baca ulang, loh loh loh serius nih??? Rasanya ngga percaya saat tahu bahwa abstrak yang kami kirimkan diterima untuk dipresentasikan secara lisan :’) Saat kedua orang teman saya tahu, mereka ribut bukan main padahal saat itu kami sedang di kantin yang cukup sepi hahaha. Singkat cerita, sambil mengurus skripsi, kami juga harus menyiapkan keperluan untuk konferensi ini. Salah satu hal yang harus kami pikirkan adalah….dana.

Kami mencoba berbagai cara untuk mendapatkan bantuan dan dukungan dana, mulai dari universitas, fakultas, kirim proposal sponsor ke berbagai perusahaan, sampai kerjasama dengan salah satu perusahaan untuk jual ini-itu (saya ga akan nyebut brand nya di sini, tapi yang mereka lakukan ke kami itu…jahat hhh). Hasilnya gimana? Alhamdulillah universitas dan fakultas masih punya hati meski yah sistemnya reimburse (what do you expect eh). Ada perusahaan yang mau bantu? E-n-g-g-a-k. Kami udah pasrah aja mengingat waktu juga semakin mepet. Lalu, ingat ga saya pernah bilang di post sebelumnya kalau nearly all the best things in life came unexpected?

Hal itu saya rasakan lagi saat sedang mengurus ini. Di H-1 keberangkatan, teman saya dapat kabar kalau DAUKY Fashion Hijab bersedia memberikan bantuan :”) Sontak, kedua teman saya segera menghampiri kantornya untuk mengurus ini itu (sayangnya saya ngga bisa ikut karena sedang ada hal lain yang dikerjakan). Siapa yang nyangka udah mau berangkat e e eh ada rezeki menghampiri huhu. Bersyukur sekali rasanya (kalau ada orang DAUKY baca ini, thank you thank you very much for your support, that does mean a lot). Keesokan harinya kami berangkat ke Jepang (iya, Jepang, negara yang sudah menginvasi diri saya sejak kecil dengan berbagai manga-nya). Tepatnya ke Yokohama untuk menghadiri International Congress of Psychology yang ke-31. The rest was just impressive and memorable, sampai rasanya saya ngga mau pulang e tapi ingat sekarang sudah jadi beban negara, jadi harus mulai segera mereka-reka lagi, ke depannya hidup mau dibawa kemana.