Paris

Beberapa hari belakangan ini setiap pagi entah mengapa saya selalu teringat Paris. Setelah dapat duduk di kereta, sambil memejamkan mata, selalu Paris yang tetiba muncul di kepala. Kepala saya seperti memutar video rekaman yang sama berkali-kali.

Pagi hari di tengah cuap-cuap para penumpang kereta, sinar matahari yang menembus masuk lewat kaca, deru kereta api, dan dingin AC yang menusuk ke badan yang sedang menggigil, Paris berhasil menyelusup masuk ke memori. Ia melesat maju mengalahkan ingatan-ingatan lain yang pada akhirnya diabaikan sejenak. Mungkin karena sekarang sudah masuk bulan Juni. Atau juga karena ingat hutang menulis yang tak kunjung dilunasi, jadi terus-menerus merongrong minta diingat.

Setiap terbayang Paris, saya teringat kembali gairah yang sudah lama tidak saya rasakan: deg-degan saat harus menyiapkan ini-itu sambil berpacu dengan tenggat-tenggat sebelum pergi. Ingin sekali rasanya hal itu saya resapi lagi, saat-saat di mana takut, excited, dan beragam adjektif lainnya bercampur jadi satu.

Saya rindu menginjakkan kaki di tanah-tanah asing. Saat ditanya “mau ke mana?” oleh petugas bandara dan saya jawab dengan (sok) pedenya dengan pelafalan yang baru saya ketahui kemudian salah total. Saya kangen berusaha membaca tanda dan peta karena bertanya menjadi opsi ke-sekian. Saya kangen Charles De Gaulle dan ucapan “Have A Nice Trip” dari petugas tiket kereta yang tetiba memunculkan keyakinan bahwa saya akan baik-baik saja di negeri asing ini.

Saya kangen Paris yang mendung, berawan, dan berangin kencang padahal sedang musim panas. Saya kangen hujan yang tiba-tiba turun dan mengamati orang-orang semakin cepat melangkahkan kaki. Saya kangen Les Marais dengan beragam diskon musim panas di toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan. Saya kangen jalan-jalan sore dan menemukan Places des Vosges yang cantik. Hamparan rumput hijau yang dipotong rapi bertemu dengan langit biru yang luas. Saya kangen Montparnasse yang ramai dan ucapan “Have A Nice Day” yang terlontar dari orang asing. Saya kangen kebingungan membeli tiket kereta di mesin, sia-sia bertanya pada petugas karena mereka tak bisa (tau tak mau?) menjelaskan dalam bahasa Inggris, dan pada akhirnya saya dan Diva diselamatkan oleh kebaikan hati orang asing yang mempraktikannya langsung pada kami. Saya kangen makan roti lapis isi tuna yang panjang dan keras dan dingin, yang tidak pernah satu kalipun saya habiskan saking besarnya. Saya kangen Cimitière du Montparnasse, pemakaman umum yang terletak tidak jauh dari Stasiun Montparnasse tapi menghabiskan satu jam sendiri untuk mencarinya. Belum lagi di dalamnya berkeliling mencari makam-makam yang ingin saya kunjungi. Saya kangen hari yang mendadak panas terik saat sampai di Eiffel dan kembali mendung saat tiba di Arc de Triomphe dan Louvre. Tidak ada foto bagus yang saya ambil di ketiganya haha. Saya kangen sekali Shakespeare and Company, sebuah toko buku lama di pinggir jalan, tak jauh dari Notre-Dame. Toko buku yang selama ini hanya saya lihat di Before Sunrise dan Midnight in Paris. Saya ingat betapa saya ingin memborong buku-buku Beat Generation di sana tapi tidak punya cukup uang. Saya kangen berjalan-jalan sore tanpa tujuan dan menemukan orang-orang lokal sedang nonton bersama pertandingan bola di sebuah kafe. Rupanya Prancis sedang berlaga! Paris di musim Euro memang cukup mengasyikkan untuk dilihat meski ramenya juga gila–gilaan. Saya kangen menemukan kafe-kafe cantik yang bertebaran di mana-mana. Menu-menu asing yang dipajang di depan kafe hanya mengundang rasa penasaran bagaimana cara melafalkannya. Untuk makan di sana? Ah lebih baik makan yang pasti mengenyangkan saja. Saya kangen melihat pria-pria lokal dengan gaya berpakaian yang elegan. Kemeja, coat cokelat, pantofel, tas jinjing, dan tak lupa parfum yang wanginya masih berbekas meski telah sekian ratus meter berlalu.  Saya kangen Porte Maillot, bus stop tanpa tempat duduk dan mengharuskan saya dan penumpang lainnya duduk menghampar di stasiun metro terdekat sembari menunggu bus berikutnya datang. Menunggu berjam-jam dengan perut kosong dan udara belasan derajat bukanlah pasangan yang baik. Saya masih ingat rasa dinginnya seperti menusuk tulang merasuk iga.

Paris memang tidak selalu cantik dan menawan. Ada stasiun metro yang kotor dan bau, ada banyak pencuri di kawasan wisata, dan ada pengemis minta-minta di beberapa sudut kota. Tapi kurang dari tiga hari di sana benar-benar membuat saya ingin kembali lagi. Well, Paris might or might not be the hottest spot in the universe, but indeed it has its own charm that’s hard to resist :’)

Adriana: I can never decide whether Paris is more beautiful by day or by night.
Gil: No, you can’t, you couldn’t pick one. I mean I can give you a checkmate argument for each side. You know, I sometimes think, how is anyone ever gonna come up with a book, or a painting, or a symphony, or a sculpture that can compete with a great city. You can’t. Because you look around and every street, every boulevard, is its own special art form and when you think that in the cold, violent, meaningless universe that Paris exists, these lights, I mean come on, there’s nothing happening on Jupiter or Neptune, but from way out in space you can see these lights, the cafes, people drinking and singing. For all we know, Paris is the hottest spot in the universe. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s