Bahasa

Kemarin sore saya mengunjungi pameran pendidikan tinggi di Kuningan bersama dengan teman-teman. Setelahnya, kami memutuskan untuk pergi makan sambil saling berbagi kabar alias curcol berjamaah. Paska lulus Agustus kemarin, tiap orang udah mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing, jadi waktu untuk bersua pun ga seleluasa saat kuliah dulu. Jadi, pas lagi pada bisa ketemu, ya dimanfaatkan banget momennya haha. Kalau dulu tiap kumpul masih suka bahas yang agak-agak sampah, bahasan obrolan kemarin didominasi oleh rencana hidup ke depan :)) dari semua hal yang dibahas, ada satu subtopik partikular which five of us can relate to: bahasa.
Yang satu, baru saja mendapatkan hasil tes IELTSnya dengan skor ciamik tanpa IELTS preparation secara formal (you’re going places and distances, lad), yang satu les Bahasa Inggris untuk semakin memperkuat grammarnya, yang satu pengen melancarkan Bahasa Inggrisnya lagi untuk mempercantik gelar highest GPAnya (wakaka engga deng bukan itu alasannya), yang satu dengar-dengar udah sertifikasi French dan fasih Italian juga (now that’s cool) dan udah ada rencana mau tes IELTS dalam waktu dekat, kemudian tinggallah saya yang masih terpukul karena merasa dikhianati tes TOEFL mendadak yang baru saja dikerjakan pagi harinya. Intinya, semua menganggap bahwa bahasa adalah hal penting yang mampu menunjang rencana hidup ke depan.
Kemudian, yang baru saja memperoleh skor IELTSnya menjadi sorotan malam itu. Jelaslah dibombardir pertanyaan ini-itu sekaligus diminta tips and trick, sambil kalau bisa saya juga pengen minta otaknya dikit biar ketularan dapat skor tinggi. Hal yang saya tangkap dari diskusi semalam adalah bahwa kuncinya ya… punya alasan dan determinasi yang kuat kenapa belajar bahasa ini jadi penting banget harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (yang bagi saya, it’s not simple at all, if truth be told).
Teman-teman saya more or less udah punya rencana dengan hidupnya masing-masing. Mereka tahu mau ngapain, so it’ll be helpful in designing their grand plans and break them down to the last detail. Sementara itu, saya jadi mempertanyakan lagi, determinasi saya mau ke mana sih? Mau ngapain? Bagaimana?
Saya ingat sekali dulu waktu SMA, motivasi saya belajar Bahasa Inggris adalah sesederhana agar saya bisa paham kalau nonton The Big Bang Theory dan How I Met Your Mother tanpa subtitle :)) Selain itu agar saya bisa menikmati stand up comedy yang dibawakan Jerry Seinfeld, Woody Allen, dan beberapa comic lainnya. Yha agak-agak dangkal memang hahaha. Kalau sekarang motivasinya apa? Entah, sepertinya saya harus menyiapkan diri untuk berbicara dengan diri sendiri (hal yang sebetulnya sudah lama saya hindari). Saya paham bahwa bermacam tips and trick yang saya minta pun sebetulnya tidak akan membawa saya ke mana-mana kalau saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Sedih ya, no matter how far you go asking around for some hints, it’s always been inside you where you have to look at first. Hehe. (MASA YA SEKARANG TIBA-TIBA LAGU YANG KEPUTER DI ITUNES SAYA DON’T WORRY NYA LEE JUCK).

December is just around the corner already. Saya cuma berharap before the end of the year, saya udah ga se-clueless sekarang 🙃

Dan untuk teman-teman, y’all are way ahead, please keep going to where you aspire to be. I’m sure you’ll be there in the blink of an eye.

(wow a rare speck of positivity in this blog, me so proud).
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s