Pendekar Tongkat Emas (dan sepotong mahadewi bernama Nusa Tenggara)

Pada awalnya saya menonton ini tanpa rencana. Hanya saja momennya pas. Di ujung minggu terakhir UAS, saat keluarga sedang lengkap ada di rumah, dan jujur saja…..karena ada Nicholas Saputra di dalamnya. Judul Pendekar Tongkat Emas sempat membersitkan ragu, mengingat judul-judul semacam itu lebih akrab di telinga melalui laga-laga di televisi yang setelah melihat adegannya bisa membuat saya bersemangat untuk pindah saluran. Lagi-lagi, hal yang menarik saya untuk menonton ini adalah faktor-faktor eksternal, khususnya ibu saya yang bersemangat sekali ingin menonton. Berbeda dengan saya, beliau amat tertarik dengan judul Pendekar Tongkat Emas, yang mengingatkannya akan cerita-cerita silat yang dulu hobi dilahapnya.

Saya datang ke bioskop tanpa ekspektasi, walau sudah mengantisipasi bahwa bioskop akan sangat ramai dengan anak-anak dan orang tuanya. Saya antre memesan tiket. Tak lama, studio dibuka. Sampai di tempat duduk, saya masih seorang penonton yang datang hanya untuk berlibur bersama keluarga. Tak ada kegiatan mencari ulasan orang-orang yang sudah menonton, tak ada intip-intip twitter untuk melihat kicauan, bahkan saya tak hirau dengan siapa saja sutradara dan pemainnya, selain Nicholas Saputra, tentu. Saya akui gembar-gembor film ini memang tidak begitu saya ikuti karena UAS di depan mata. Tapi ketika film dimulai, saya tahu ini akan menjadi film yang tidak biasa.

Film ini dibuka oleh narasi dari Cempaka, yang diperankan oleh aktris senior Christine Hakim, seorang tokoh yang sangat dihormati di dunia persilatan. Ia adalah pemimpin perguruan Tongkat Emas, yang dikenal selalu memenangkan pertarungan-pertarungan antarperguruan. Namun, ia memutuskan untuk berhenti bertarung dan menepi ke sebuah pondok kecil untuk tinggal dan merawat anak-anak orang-orang yang dibunuhnya. Ia menurunkan ilmu silatnya, pada Bumi (Reza Rahadian), Dara (Eva Celia), Gerhana (Tara Basro) dan Angin, muridnya yang paling muda. Konflik mulai muncul ketika Cempaka harus menyerahkan perguruan Tongkat Emas, dan senjata Tongkat Emas saktinya kepada salah seorang di antara muridnya. Dari sana cerita bergulir. Tentang pengkhianatan, tentang ambisi dan cara mewujudkannya, tentang pelarian dan pengorbanan, tentang kehilangan dan perpisahan, tentang masa lalu, tentang janji, dan tentu tentang cinta yang menyelusup hadir sebagai drama di tengah adegan silat yang mendominasi cerita. Hal-hal ini disampaikan dengan baik melalui akting para aktor dan aktrisnya yang mumpuni. Saya menemukan akting Reza Rahadian yang menawan, Tara Basro yang membuat melongo, Eva Celia yang menghayati, Nicholas Saputra yang seperti biasa, selalu tampak dingin sekaligus hangat, Christine Hakim yang empat jempolpun tidak cukup untuk saya berikan padanya, serta pemeran lainnya yang juga menjadikan film ini hidup. Saya tidak akan memberikan spoiler di sini. Silakan tonton dan nikmati, rasakan bagaimana perihnya pengkhiantan yang ada, bagaimana keyakinan seorang pendekar untuk terlibat dalam hidup orang lain, terlepas dari hukuman yang menunggunya karena tindakannya mengharuskan ia melanggar sumpah. Cerita pun menjadi semakin terasa karena dilengkapi dengan musik yang pas dan tidak berlebihan. Meski ada beberapa bagian cerita yang terasa agak janggal, film ini ditutup dengan realistis, bagi saya. Pendekar Tongkat Emas tidak menjanjikan akhir yang muluk dan diidamkan penonton seperti film pada umumnya, namun kisah tentang luka yang dihadirkan dalam cerita cukup mewakili: hidup memang seringkali terasa tidak adil, tapi karena itu terjadi pada semua orang, maka ia menjadi adil. Setiap orang mendapatkan reaksi atas aksinya. Setiap orang menuai maknanya sendiri.

Bicara tentang visual, saya angkat tangan. Saya tidak mengerti secara teknis, tapi shots yang ada sepanjang film sangat memanjakan mata. Beragam warna yang tajam hadir dalam layar bioskop benar-benar membuat menganga. Saya hampir menangis dibuatnya. Berlebihan? Mungkin. Tapi memang itu yang saya rasakan. Hamparan sabana yang diselimuti terik matahari, kuda-kuda berlarian, bola cakrawala yang tenggelam digantikan sepotong bulan yang menyembul ke langit (bagian ini sungguh berkesan!), goa-goa berongga, pantai dengan airnya yang jernih dan mulai berkilau tertimpa cahaya pagi, kabut-kabut yang menyelimuti, hingga barisan bukit yang berjajar menyembul di jalan. Saya salut pada tim produksi yang berani menjadikan daerah tersebut sebagai lokasi syutingnya. Daerah yang saya tahu bernama Sumba, sepotong kecil mahadewi yang ada di Nusa Tenggara Timur. Sumba, dengan segala keeksotisannya, menjadi salah satu kekuatan utama film ini untuk melengkapinya menjadi film yang indah. Menyoal visual ini pula, Pendekar Tongkat Emas juga sekaligus membuka mata penontonnya, bahwa lokasi seeksotis itu ada di bumi pertiwi, Indonesia. Selain itu, adegan perkelahian yang ada di sepanjang film tidak seperti dibuat-buat. Saya tidak tahu berapa lama waktu yang dihabiskan para pemain untuk berlatih hingga mantap. Hal ini didukung oleh pengambilan gambar yang juga ciamik.

Untuk bisa hadir sebagai sebuah film utuh yang memiliki jalinan yang kuat dari semua aspeknya, saya ingin mengapresiasi seluruh orang yang ada di balik pembuatan film ini. Sutradara, produser, director of photography, editor, penulis naskah (Seno Gumira Ajidarma terlibat!), komposer musik (saya sebenarnya tidak yakin ini istilah yang tepat…), aktor dan aktris, serta semua kru, tanpa kerja keras semuanya, saya yakin, Pendekar Tongkat Emas tidak akan semenggugah ini. Terima kasih sudah memberi angin segar pada film Indonesia. Terima kasih sudah menyenangkan seorang penonton yang sudah jarang ke bisokop (baca: saya). Saya datang tanpa ekspektasi, tapi pada akhirnya saya menikmati.

Bonus gambar tiket saat #nontonPTE

Screen Shot 2014-12-25 at 10.21.06 AM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s