Menonton Sang Putra Fajar

Image

Setelah sekian lama, akhirnya kemarin saya kembali ke bioskop. Pilihan film yang akan saya tonton jatuh pada Soekarno. Saya memang penasaran dengan film ini karena ingin melihat seperti apa seorang Soekarno dikisahkan dalam sebuah film. Di awal film para penonton diminta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi sedihnya hanya segelintir orang yang mau berdiri. Sisanya memilih tetap berada di pangkuan sofa bioskop nan empuk itu.

Saya selalu senang menonton film Indonesia berlatar sebelum tahun 2000an. Alasannya cetek: karena senang melihat properti-properti yang digunakan. Selalu senang membayangkan bagaimana para pembuat film mengonsep itu semua dan mewujudkannya. Dan ini saya temukan dalam film Soekarno. Apik. Semua apik. Soal sinematografi, saya ga bisa komentar banyak karena ga ngerti haha, tapi buat saya, sinematografinya bagus. Gambarnya tajam, halus, dengan tone warna yang klasik *apaan* haha. Perpindahan scene nya juga halus, sangat halus~

Masuk ke bagian cerita, menurut saya film Soekarno mengundang banyak tangis. Atau entah itu hanya berlaku untuk saya saja. Anehnya, yang saya tangisi adalah kehidupan di sekitar Bung Karno beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya, bukan Bung Karno nya itu sendiri. Saat memutuskan akan menonton Soekarno, yang saya bayangkan adalah bagaimana perjuangan beliau divisualisasikan. Tapi yang saya temukan justru hal lain. Film Soekarno memberikan porsi besar bagi kehidupan percintaan beliau -ya, hanya 2 istri yang digambarkan dari 9 wanita yang pernah diperistri beliau-. Sisi baiknya dari hal tersebut adalah itu memang menggambarkan bagaimana sikap gentleman seorang Soekarno. Beliau memang selalu mengungkapkan apa yang dirasakannya, meski hal tersebut bisa menyakiti yang lainnya.

Saya banjir air mata pada beberapa adegan di film ini: saat pribumi diperlakukan seperti anjing, saat para romusha jatuh bergelimpangan, saat warga ditembaki di sana-sini, saat Inggit Garnasih memilih untuk bercerai setelah sekian lama mendampingi Bung Karno karena tak ingin dimadu dengan Fatmawati, saat melihat foto keluarga Bung Karno dan Inggit dibakar habis oleh Fatmawati, saat Bung Hatta dan Bung Karno berdiskusi di dalam mobil ketika Bung Karno merasa Sjahrir pasti meremehkannya, saat melihat Sjahrir yang terlihat berseberangan dengan Bung Karno tapi sebenarnya selalu mendukungnya (“Satu, dua, tiga Syahrirpun tidak akan bisa menggantikan peran mereka berdua!“), saat Laksamana Maeda berjanji akan melindungi keamanan golongan tua dan muda yang akan menyusun proklamasi, dan saat proklamasi dibacakan menggunakan suara asli Bung Karno. Ditambah sepanjang film beberapa kali diiringi lagu Indonesia Pusaka, Syukur, dan Tanah Air yang tambah mengiris hati. Banyak juga ya adegan yang bikin sedih -_- iya bilang aja saya cemen, tapi itu memang sedih untuk saya. Kemudian karakter Bung Karno dalam film ini tidak terasa se-optimis aslinya. Saya merasa Bung Karno di sini terlalu gloomy. Saya tidak banyak melihat kobaran-kobaran semangat Bung Karno kecuali ketika sedang berpidato di depan rakyat. Selebihnya, saya merasakan keresahan yang amat sangat (what do you expect dari masa penjajahan, Taal -_-).

Tapi, secara keseluruhan, sepertinya Soekarno dalam bayangan saya berbeda dengan Soekarno dalam bayangan Hanung Bramantyo. Mungkin karena referensi yang digunakan dalam ‘membentuk’ Soekarno juga berbeda. Entahlah. Di film ini Hanung seakan menonjolkan sifat don juan Bung Karno yang mampu memikat banyak wanita. Bahkan sepertinya fokus film ini adalah keretakan rumah tangga Bung Karno dengan Inggit karena kehadiran Fatmawati. Bung Karno lebih sering digambarkan memikirkan kehidupan cintanya daripada bagaimana memperjuangkan Indonesia. Kemudian dalam film ini Soekarno digambarkan sangat kooperatif dengan Jepang untuk mengambil hati rakyat agar mau bekerjasama dengan Jepang. Dan film ini seolah mengatakan bahwa Soekarno mengikuti apa saja yang diminta Jepang tanpa memperlihatkan Soekarno yang bernegosiasi. Apa yang terjadi pada Indonesia (seperti dibolehkannya mengumandangkan Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah-putih) seakan murni dari kemurah-hatian Jepang, padahal tidak. Ketegangan yang harusnya muncul ketika Soekarno-Hatta kembali dari Rengasdengklok juga tidak terasa. Saya penasaran apakah pada aslinya Laksamana Maeda memang se-baik itu dengan sudah mengumpulkan orang-orang (err saya gak tahu siapa yang dikumpulkannya, gak begitu merhatiin pas film, mungkin anggota PPKI) di rumahnya untuk membantu menyiapkan penyusunan proklamasi. Andai porsi perjuangan yang dilakukan Bung Karno tentang membangun Indonesia ditambahkan dalam film ini, mungkin akan lebih terasa sisi heroiknya sehingga pandangan tentang Bung Karno bukan cuma seorang sosok yang  lebih memedulikan kehidupan cintanya, tetapi sosok yang berjuang untuk bumi pertiwi. Meski begitu, menurut saya film ini cukup mampu memperlihatkan apa yang membuat Soekarno begitu dicintai rakyatnya hingga ada seorang petani yang rela berjalan dari Sumedang ke Jogjakarta untuk membawa hasil kebunnya untuk Bung Karno (bagian ini ngga ada di film sih, tapi tiba-tiba keingetan aja).

Aktor dan aktris yang ada dalam film ini juga bermain dengan baik. Ario Bayu rasanya pas untuk memerankan Soekarno.

Image

Soekarno dan Ario Bayu

Dari sekian tokoh yang ada, saya suka sekali tokoh Hatta di sini (Lukman Sardi!! <3).

Image

Lukman Sardi sebagai Hatta

Saya juga tidak menyangka Sjahrir akan digambarkan sebagai orang yang keras (saya tidak tahu watak Sjahrir yang sebenarnya, hanya saja selama ini saya membayangkan Sjahrir juga kalem *ketahuan ga banyak baca buku tentang sejarah*). Maudy Koesnadi sebagai Inggit juga tampil mengesankan dengan penghayatan yang bagus sekali. Tapi yang saya sayangkan adalah tokoh Sukarni digambarkan sebagai tokoh yang tidak serius dan clumsy, padahal Sukarni merupakan salah satu tokoh pemuda yang berwibawa.

Satu film memang tidak akan bisa menceritakan secara utuh biografi Soekarno. Bahkan saya sendiri tidak yakin apakah berpuluh film juga mampu menghadirkan kehidupan seorang Soekarno. Apalagi dibutuhkan riset yang super hati-hati dalam pengembangan tokoh Bung Karno itu sendiri.  Tapi bagi saya, film ini tetap mampu menyampaikan moral story nya. Apresiasi untuk Hanung Bramantyo. Film Soekarno mengingatkan kita bahwa pernah ada seorang pemimpin Indonesia yang begitu dicintai rakyatnya dan mampu membawa negeri ini terlepas dari masa perbudakannya. Mengutip apa yang disampaikan di dalam film:

“Kemerdekaan ini bukan akhir, Bung. Ini baru permulaan.”

Semoga semangat Bung Karno selalu menghangatkan siapa saja yang meneruskan kemerdekaan yang telah diperjuangkannya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s