Perjalanan

Apa yang kau rasakan saat sedang sejenak menghentikan perjalanan dan menengok ke belakang?

Sebuah perjalanan tidaklah berlangsung secara kontinyu. Pada suatu titik kau akan merasa perlu berhenti sejenak. Merasa perlu mengistirahatkan kaki. Atau ada yang memaksamu untuk berhenti. Ada kelelahan yang teramat sangat yang tetiba menyergapmu dari segala arah. Mendadak perjalananmu didatangi keraguan, apakah ia pada akhirnya akan tiba di ujung yang kau nantikan. Mendadak kau ragu karena apa yang biasanya kau jadikan patokan menghilang. Di titik itu kau merasa diserbu. Ada ratusan fragmen yang muncul kembali tepat ke depan wajahmu, menghadirkan potongan-potongan perjalanan yang sudah kau lalui. Rupa-rupa yang pernah menghiasi perjalananmu kembali muncul, seolah menjelma menjadi nyata. Kau dikepung. Di satu sisi kau ingin kembali, kembali saja ke titik awal, dan membatalkan pilihan untuk melakukan perjalanan ini. Kau akan menolak menggantungkan nasib pada apa yang belum pasti. Kau ingin kembali saja ke garis awal, mengambil pilihan lain yang ditawarkan—atau membuat pilihan lainnya. Tapi di sisi lain kau menghargai dirimu yang sudah berjalan sejauh itu. Menyadari seberapa besar usaha yang telah kau kerahkan untuk bisa ada di titik yang sekarang. Meski tertatih dan seringkali tersendat, kau tetap berjalan, karena kau punya keyakinan bahwa toh pasti akan tiba di titik akhir. Tapi, sekarang pengharapan yang muncul di awal perlahan mati seiring banyaknya cabang yang kau temukan dalam perjalananmu. Di titik pemberhentianmu, kau mengutuki segalanya. Di dalam dirimu sedang ada pergulatan. Manusia adalah makhluk yang paling brengsek yang pernah ada, begitu pikirmu. Kau mengutuki betapa lemahnya apa yang kau sebut dengan hati. Betapa mudahnya ia terbolak-balik. Tanpa permisi ia mengeluarkan segala keraguan dan ketidakpastian yang selama ini dijejalkan ke suatu sudut saat kau memutuskan akan melakukan perjalanan. Hatimu berusaha membungkam akal sehatmu. Membuatmu ingin kembali. Pada saat itu, akal sehatmu terpojok. Ia menggigil sendirian, dan sedikit demi sedikit mulai membeku. Kau lalu mengutuki aspek paling manja dari seorang manusia: afektif. Menurutmu afeksi harusnya tidak pernah ada karena hanya akan membuatmu mengalami disonan. Tetiba kau berharap menjadi robot yang akan terus berjalan tanpa harus merasa lelah. Tanpa harus memikirkan apapun. Tanpa perlu punya kuasa untuk menengok ke belakang dan hanya akan menatap lurus ke depan. Tanpa perlu khawatir kognitifmu tersaingi oleh afektifmu, toh robot tidak memiliki afeksi dan emosi. Dan kau akan tiba di akhir perjalananmu dengan mudah.

Tapi bagaimanapun, kau tetap manusia kan? Sebesar apapun keinginanmu untuk mengenyahkan afeksi dan emosi, mereka tetap bercokol dalam dirimu. Pada akhirnya, kau yang harus berdamai, dengan dirimu sendiri.

Di titik yang membuatmu berhenti, kau harus segera menentukan pilihan (lagi) karena sebuah perjalanan tidak mengizinkanmu untuk berhenti terlalu lama.

31 Mei 2013

 *nemu file ini di salah satu folder di laptop dan lupa ini ditulis karena apa*
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s