lucu ya bagaimana seseorang bisa merasa iri hanya dengan membaca tulisan seseorang lainnya dan menebak-nebak (si)apa yang diceritakan dan dirujuknya dalam tulisan tersebut

iri karena sudah pasti bukan ia orangnya, karena tidak ada garis singgung apapun dalam hidup keduanya

iri karena ia (sok) tahu bahwa setiap yang ditulis orang tersebut merupakan sublimasi dari apa yang terjadi dalam hidupnya

kok bisa bilang begitu, katanya tidak pernah bersinggungan?

yah namanya juga (sok) tahu; hasil dari melahap hampir seluruh tulisannya dan menangkap pola yang ada (kalau memang ada, tentunya)

hari berlalu, tahun berganti, ingatan menyublim, tapi kenapa

m     a    s    i    h                     s     a    j     a

ada yang rasanya mau lompat saat melihat sekelebat tanda

apa yang nyaris terlupakan, muncul kembali ke permukaan

ah,    b   o    d   o    h

Advertisements

Paris

Beberapa hari belakangan ini setiap pagi entah mengapa saya selalu teringat Paris. Setelah dapat duduk di kereta, sambil memejamkan mata, selalu Paris yang tetiba muncul di kepala. Kepala saya seperti memutar video rekaman yang sama berkali-kali.

Pagi hari di tengah cuap-cuap para penumpang kereta, sinar matahari yang menembus masuk lewat kaca, deru kereta api, dan dingin AC yang menusuk ke badan yang sedang menggigil, Paris berhasil menyelusup masuk ke memori. Ia melesat maju mengalahkan ingatan-ingatan lain yang pada akhirnya diabaikan sejenak. Mungkin karena sekarang sudah masuk bulan Juni. Atau juga karena ingat hutang menulis yang tak kunjung dilunasi, jadi terus-menerus merongrong minta diingat.

Setiap terbayang Paris, saya teringat kembali gairah yang sudah lama tidak saya rasakan: deg-degan saat harus menyiapkan ini-itu sambil berpacu dengan tenggat-tenggat sebelum pergi. Ingin sekali rasanya hal itu saya resapi lagi, saat-saat di mana takut, excited, dan beragam adjektif lainnya bercampur jadi satu.

Saya rindu menginjakkan kaki di tanah-tanah asing. Saat ditanya “mau ke mana?” oleh petugas bandara dan saya jawab dengan (sok) pedenya dengan pelafalan yang baru saya ketahui kemudian salah total. Saya kangen berusaha membaca tanda dan peta karena bertanya menjadi opsi ke-sekian. Saya kangen Charles De Gaulle dan ucapan “Have A Nice Trip” dari petugas tiket kereta yang tetiba memunculkan keyakinan bahwa saya akan baik-baik saja di negeri asing ini.

Saya kangen Paris yang mendung, berawan, dan berangin kencang padahal sedang musim panas. Saya kangen hujan yang tiba-tiba turun dan mengamati orang-orang semakin cepat melangkahkan kaki. Saya kangen Les Marais dengan beragam diskon musim panas di toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan. Saya kangen jalan-jalan sore dan menemukan Places des Vosges yang cantik. Hamparan rumput hijau yang dipotong rapi bertemu dengan langit biru yang luas. Saya kangen Montparnasse yang ramai dan ucapan “Have A Nice Day” yang terlontar dari orang asing. Saya kangen kebingungan membeli tiket kereta di mesin, sia-sia bertanya pada petugas karena mereka tak bisa (tau tak mau?) menjelaskan dalam bahasa Inggris, dan pada akhirnya saya dan Diva diselamatkan oleh kebaikan hati orang asing yang mempraktikannya langsung pada kami. Saya kangen makan roti lapis isi tuna yang panjang dan keras dan dingin, yang tidak pernah satu kalipun saya habiskan saking besarnya. Saya kangen Cimitière du Montparnasse, pemakaman umum yang terletak tidak jauh dari Stasiun Montparnasse tapi menghabiskan satu jam sendiri untuk mencarinya. Belum lagi di dalamnya berkeliling mencari makam-makam yang ingin saya kunjungi. Saya kangen hari yang mendadak panas terik saat sampai di Eiffel dan kembali mendung saat tiba di Arc de Triomphe dan Louvre. Tidak ada foto bagus yang saya ambil di ketiganya haha. Saya kangen sekali Shakespeare and Company, sebuah toko buku lama di pinggir jalan, tak jauh dari Notre-Dame. Toko buku yang selama ini hanya saya lihat di Before Sunrise dan Midnight in Paris. Saya ingat betapa saya ingin memborong buku-buku Beat Generation di sana tapi tidak punya cukup uang. Saya kangen berjalan-jalan sore tanpa tujuan dan menemukan orang-orang lokal sedang nonton bersama pertandingan bola di sebuah kafe. Rupanya Prancis sedang berlaga! Paris di musim Euro memang cukup mengasyikkan untuk dilihat meski ramenya juga gila–gilaan. Saya kangen menemukan kafe-kafe cantik yang bertebaran di mana-mana. Menu-menu asing yang dipajang di depan kafe hanya mengundang rasa penasaran bagaimana cara melafalkannya. Untuk makan di sana? Ah lebih baik makan yang pasti mengenyangkan saja. Saya kangen melihat pria-pria lokal dengan gaya berpakaian yang elegan. Kemeja, coat cokelat, pantofel, tas jinjing, dan tak lupa parfum yang wanginya masih berbekas meski telah sekian ratus meter berlalu.  Saya kangen Porte Maillot, bus stop tanpa tempat duduk dan mengharuskan saya dan penumpang lainnya duduk menghampar di stasiun metro terdekat sembari menunggu bus berikutnya datang. Menunggu berjam-jam dengan perut kosong dan udara belasan derajat bukanlah pasangan yang baik. Saya masih ingat rasa dinginnya seperti menusuk tulang merasuk iga.

Paris memang tidak selalu cantik dan menawan. Ada stasiun metro yang kotor dan bau, ada banyak pencuri di kawasan wisata, dan ada pengemis minta-minta di beberapa sudut kota. Tapi kurang dari tiga hari di sana benar-benar membuat saya ingin kembali lagi. Well, Paris might or might not be the hottest spot in the universe, but indeed it has its own charm that’s hard to resist :’)

Adriana: I can never decide whether Paris is more beautiful by day or by night.
Gil: No, you can’t, you couldn’t pick one. I mean I can give you a checkmate argument for each side. You know, I sometimes think, how is anyone ever gonna come up with a book, or a painting, or a symphony, or a sculpture that can compete with a great city. You can’t. Because you look around and every street, every boulevard, is its own special art form and when you think that in the cold, violent, meaningless universe that Paris exists, these lights, I mean come on, there’s nothing happening on Jupiter or Neptune, but from way out in space you can see these lights, the cafes, people drinking and singing. For all we know, Paris is the hottest spot in the universe. 

that particular date of that particular month

Unfortunately, the clock is ticking, the hours are going by. The past increases, the future recedes. Possibilities decreasing, regrets mounting.
– Haruki Murakami

we’re gonna be entering the second half year soon and i still have no fucking idea about what next step i should make. it’s like my prefrontal cortex suddenly loses its function and i can’t even fucking plan or think of anything, let alone deciding something. i’ve been avoiding anything until recently that i started thinking that i could not continue living my life like this. at some point i need to take action, but the essential question is, to what direction?

i realise that just because it’s my own life, doesn’t mean i could hold a status quo for as long as i wish. there are other lives (and so many other things) to be taken into consideration, and i am too scared of ruining everything. what if the steps i take will bring me to a dead end or worse a wrong end? though ironically i am not even fucking certain what kind of end i’d like to come to. for god sake how can a human being be this fucking clueless. hear that every tick-tock of the clock on the wall? yes it’s going to be a race against the time.

on another note, may is always the worst. just like last year, it didn’t start well and deadlines are everywhere, but at the end of the day thankfully i was reminded again of how there are so many things around me to be grateful for and how ashamed i am of how i’ve been such a shitty, whiny, and grumpy kid all along (you just directly witnessed this by reading the first two paragraphs of this post aight). oh how i wish maturity automatically excels as we’re aging.

“…happy together can apply to two persons or apply to a person and his past, and I think sometimes when a person is at peace with himself and his past, I think it is the beginning of a relationship which can be happy, and also he can be more open to more possibilities in the future with other people.”

– Wong Kar-Wai

Bukan

Seringkali orang bilang: jangan terlalu bawa perasaan ah!

Loh memang perasaan mau dibawa ke mana sih?

Mungkin saja bagi sebagian orang, yang menakutkan bukanlah

memiliki perasaan yang begitu kuat hingga rasanya tabung di dada mau pecah

Yang menakutkan bukanlah ketika ada kemungkinan habis dilahap oleh beragam rasa yang tiba-tiba menyergap

Yang menakutkan bukanlah menyadari bahwa kapan saja bisa diringkus oleh harapan-harapan yang berkeliaran

Bagi mereka, yang menakutkan adalah

 

Ketika

Tidak

Bisa

Merasakan

Apa-apa

 

Virus Koriya

Halo. Selamat jumpa kembali di Februari.

Bogor lagi sering hujan. Setiap hari. Nonstop. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi. Bikin ikutan gloomy. Cuaca dan suasana paling pas buat terseret dalam mood retrospektif(?) hahaha. Ya jadi kali ini saya pengen curhat aja, gapapa ok.

Hm mulai dari mana ya.. hmm biasanya kalau curhat gini gak pernah saya post ke blog, biasanya cuma ditulis di Word dan ya udah disimpan aja untuk konsumsi pribadi hahaha tapi berhubung menurut saya kali ini cukup menjadi salah satu hal yang hmm apa ya disebutnya, ya begitulah, jadi gapapa saya post aja yah (apa sih, Tal, udah lama gak nulis jadi bikin deskripsi aja jelek banget???)

Selayaknya orang-orang yang terjangkit virus Koriya dan segala yang ada di dalam industri hiburannya, saya juga gak terkecuali. Tapi ya biasa aja sih, gak yang sampai bikin geleng-geleng kepala seperti tingkah laku para netizen Koriya yang saya suka gak habis pikir. Salah satu virus Koriya yang mau saya bahas adalah drama Koriya. Dari dulu sebenernya saya cukup familiar sama drama Koriya. Saya ingat waktu SMP suka nonton di Indosiar. Bahkan kayaknya saya udah nonton dari SD (?) ya pokoknya udah lumayan lama. Buat jenis dramanya, saya ga begitu suka drama yang fokusnya romansa banget, lebih seneng yang heartwarming (?) gitu, meski ya ga terhindar sepenuhnya juga dari romansa. Terus kalau soal sumber nonton drama, dulu tuh sumbernya paling dari TV aja, maksimal banget pinjem DVD ke saudara, itupun bisa dihitung pakai satu tangan. Sisanya ya nonton di TV. Waktu itu belum akrab sama prosesi download atau streaming. Karena cuma bisa nonton di TV itu makanya saya mengusahakan biar gak ketinggalan. Biasanya sih pulang sekolah sore-sore terus duduk manis depan TV. Meski ada bagian-bagian yang bikin gak tega nontonnya, saya mau gak mau tetap duduk dan nonton karena kalau ngga, bakal ketinggalan dan gak tahu harus nonton di mana lagi. Seiring bertambah tua dan mengenal internet, saya tahu “oh bisa juga nih gak harus nonton di TV”, tapi ternyata saya malah gak bisa nonton dari selain TV, bahkan DVD juga…karena suka gregetan dan pengen nge-skip aja bagian-bagian yang bikin gemes, tapi di sisi lain saya ini orang yang paling pantang ngintip ke bagian akhir cerita. Kalau di TV kan saya gak bisa nge-skip jadi “dipaksa” nonton. Kalau di DVD saya punya “kuasa” untuk maju-mundur nontonnya. Jadi kan kesel ya, pengen skip tapi nanti gak tahu ceritanya tapi gak pengen lompat ke akhir juga hhhh. Remaja.

Ditambah lagi, jeleknya saya ini kalau nonton tuh orangnya immersed banget, jadi kayak suka kepikiran hhhh ya maklum ya masa-masa remaja memang bikin elus dada kalau diingat kembali. Singkat cerita, sampai SMA saya masih suka nonton beberapa. Setelahnya, saya gak pernah mau nonton lagi. Kayaknya sih unconsciously saya menghindar nonton drama Koriya hahaha capek banget tiap nonton. Terakhir kali saya nonton drama Koriya itu…akhir SMA. Dramanya Dong Wook yang menemani setiap malam minggu begadang ngerjain tugas akhir. Setelah itu udah gak pernah nonton apa-apa lagi. Paling cuma tahu “oh lagi ada drama/film ini” atau “oh si ini main drama/film ini sama si ini”. Sesekali ya pasti ada rasa penasaran kayak apa sih drama/filmnya, karena review-nya menarik, tapi nope nein nada, saya teguh sekali memegang prinisp gak mau nonton lagi hahaha. Bahkan buat drama-drama atau film-film para aktor kesukaan saya juga saya angkat tangan gak ada yang saya tonton lagi. Dari SMA itu saya mulai lebih sering nonton variety shows, lebih santai dan bikin ketawa lepas, ga bikin capek makan hati atau mata sembap. Bahkan masa-masa persiapan masuk kuliah saya ditemani sama variety shows;  begadang cuma buat nonton setelah pusing ngerjain soal-soal.

Sampai saya lulus kuliah, semua berjalan damai-damai saja, sesekali saya masih suka ngikutin perkembangan aideul-aideul Koriya tapi ya biasa aja. Oh satu-satunya drama yang berhasil bikin saya coba streaming itu Reply 1988, penasaran pengen nonton karena dengar lagu Don’t Worry yang dinyanyiin sama Lee Juck. Saya sempet streaming episode pertama….tapi cuma tahan beberapa belas menit awal karena belum siap buat balik nonton kdrama lagi(??) Jadi bubar jalan balik kanan grak. SAMPAI SUATU KETIKA DI KUARTER AKHIR 2016 MUNCUL BERITA KALAU MAU ADA DRAMA KORIYA DENGAN DONG WOOK DAN GONG YOO SEBAGAI PEMERAN UTAMANYA. Langsung pusing kepala ini. Dua-duanya aktor kesukaan saya, dan kok ya bisa-bisanya mereka main drama bareng. Ini pasti pertanda saya harus balik nonton lagi *delusi*. Tapi waktu itu saya lagi sibuk (halah) dan sadar diri kalau saya gak bakal tahan nonton saat dramanya masih on-going (saya mana sanggup harus tersiksa nunggu tiap minggu). Jadi ya saya tunda-tunda nontonnya dengan dalih “menyiapkan diri sebelum come back ke dunia drama Koriya”. Singkat cerita, akhirnya saya nonton……tiap menjelang tengah malam sampai jam 4 atau 04.30 pagi hahaha sambil di luar hujan deras hhhh. Sepanjang nonton cuma bisa geleng-geleng kenapa mereka ganteng banget. Pusing. Konsisten banget gantengnya dari dulu. Dan sekarang umurnya udah pada mau 40an aja??? Life is unfair. Untungnya, saya udah bisa mendoktrin diri sendiri biar gak terlalu immersed saat nonton, meski sedih-sedih mah tetep. Keselnya saya masih suka kebayang-bayang dramanya dan senyum-senyum sendiri kalau lagi denger OSTs nya di Spotify :)) Wow akhirnya setelah hampir 6 tahun gak nonton drama Koriya, saya nonton lagi. Such an achievement. Gak nyesel balik nonton karena dramanya memuaskan hati :)) tapi abis ini sepertinya balik hiatus lagi aja sampai ada yang menarik hati lagi :”)

Udah sih intinya pengen cerita itu aja karena luar biasa akhirnya saya mau menonton drama lagi. Cuma karena dua aktor kesukaan saya main bareng. Udah pasti pertanda sih itu :p

Dulu nonton bisa sampai nangis-nangis meratap, sekarang alhamdulillah udah menitikkan air mata aja. Yang gak berubah itu secara konstan geleng-geleng kepala dan mengaduh gak jelas sendiri karena aktornya ganteng banget. Lucunya setelah akhirnya nonton drama Koriya lagi, I feel……humane? Apa banget ya tapi berasa kembali menjejak bumi, mungkin karena drama Koriya kan tipe-tipe yang brings your feelings out, even the kind of feelings I usually avoided the most. Ya tahulah antara berbunga-bunga dihampiri kupu-kupu atau menangis terbahak-bahak teringat hidup sendiri. Both are the extreme polar opposites I usually try not to be trapped into. Iya saya emang cemen anaknya gak suka confront perasaan sendiri (EH LAH GIMANA KOK SALAH FOKUS).

Udah ah, selamat beraktivitas.

Caping

Malam ini, saat sedang berdesakkan di kereta sepulang kantor, tiba-tiba saya teringat salah satu catatan pinggir (caping) Goenawan Mohamad yang pernah saya temukan di masa kuliah. Tiba-tiba saja muncul di ingatan, padahal beberapa waktu ini saya sama sekali tidak bersinggungan dengan apapun yang berkaitan dengan GM dan tulisan-tulisannya. Saya ingat dulu pertama kali membaca caping tersebut, entah mengapa dan bagaimana, saya merasa dipahami.

Malam tadi, ketika caping itu kembali mencuat dalam ingatan, segera saya mencarinya di google. Klik. Muncul. Pada akhirnya, di tengah deru kereta dan kicau penumpang lainnya, saya mulai bisa mengenali dan mengerti perasaan dipahami yang dulu muncul. Saya taruh di sini ya tulisan lengkapnya (sumber: dari sini).


Liquor is quicker 
Ogden Nash
Saya menyukai pagi: dengan gerimis atau sinar matahari, saya akan berjalan mengikuti bayang-bayang pohon sepanjang alur, atau sebaliknya, duduk tiga menit memejamkan mata di depan jendela terbuka. Ada sisa harum kemuning yang mekar semalam dan bau daun-daun yang lumat di rumput becek. Ada suara burung yang cerewet, ya, pagi adalah suara burung yang cerewet. Juga suara tokek, bunyi berat yang sabar satu demi satu, seakan-akan melawan kecepatan detik.
Mungkin saya menyukai pagi karena di sana saya berlindung dari kecepatan detik.
Meskipun bisa tak bertahan. Sebab jika pada menit berikutnya saya buka laptop, akan menghambur apa yang disebut “informasi”, ribuan kata, suara, angka, dan gambar yang desak-mendesak, singkir-menyingkirkan: kabar dari situs dot.com, salam dan umpatan dan keluhan minta perhatian di Twitter, foto-foto pamer diri di Facebook, pesan-pesan sejenak dari teman dan orang yang tak dikenal di telepon seluler. Mereka melintas. Mereka tenggelam. Mereka diingat, tak lengkap. Mereka mungkin statemen, mungkin salah paham yang bergegas. Mereka berubah.
Di depan laptop, dunia melawan pagi.
Di depan laptop, di luar iPad, di luar kamar, kita diproyeksikan seolah-olah terancam: makhluk yang akan runtuh bila tak bergerak cepat. Klaus Schwab, pendiri World Economic Forum, menyebarluaskan kecemasan itu: “Kita bergerak dari sebuah dunia di mana yang besar memakan yang kecil ke arah dunia di mana yang cepat menelan yang pelan.”
Saya tak ingin mengamini itu. Kecepatan itu riuh-rendah. Saya lebih menginginkan apa yang digambarkan Chesterton sebagai “the gift of loneliness, which is the gift of liberty”. Kesunyian itu mengandung karunia: kebebasan.
Tapi memang ada, memang makin banyak, orang yang menampik karunia itu: mereka yang waswas bila tak melakukan apa-apa, mereka yang tak mengerti bagaimana duduk dengan mata terpejam mendengarkan bunyi hujan dan suara katak di selokan, orang-orang yang mau cepat-cepat mengakhiri sunyi, orang-orang yang dikerubuti waktu yang selalu dihitung.
Saya tak pernah merasa merdeka dengan waktu yang dihitung, bukan karena tiap kali dikejar deadline, tapi mungkin karena saya datang dari generasi yang berbeda. Di waktu kecil, di malam hari, sambil terbaring di ambin, saya sering mendengarkan suara orang ura-ura membawakan Wedhatama dalam tembang. Ada kalimat “sepa sepi lir sepah samun” yang tak saya pahami artinya tapi saya rasakan sendunya. Saya juga datang dari sebuah masa ketika sehabis isya anak-anak tergolek di samping ibu, dibimbing ke mimpi dengan dongeng yang panjang.
Mungkin sebab itu saya bisa mengerti mengapa Carl Honor berubah. Ia koresponden pelbagai surat kabar, antara lain The Economist, yang menulis berita-berita luar negeri. Ia mengejar (atau dikejar?) berita dari kota ke kota asing, masuk-keluar bandara dan pesawat, terus-menerus menelepon editor dan sumber-sumber berita (dan tak lagi mendengarkan musik di Walkman-nya), tak sempat pula bercerita panjang untuk mengantar tidur anak-anaknya.
Pada suatu saat, ketika ia sedang antre di sebuah bandara, terbaca olehnya sebuah tulisan, “The One-Minute Bedtime Story”. Eureka! Ia bergembira: akhirnya orang bisa membuat dongeng yang cuma satu menit panjangnya. Ia perlu kemudahan seperti itu, sebab ia tak bisa melayani permintaan anak-anaknya untuk membawakan cerita yang asyik. Hampir saban malam ia harus menulis, mengirim artikelnya, menjawab sur-el, membaca kabar, dan berdiskusi.
Tapi bagaimana membawakan dongeng Hans Christian Andersen dalam 60 detik?
Hanya dalam gerak yang pelan, kita bisa menyusuri hidup Si Thumbelina. Sebuah dongeng akan mati ketika ia jadi ikhtisar. Ia tak hidup dengan ketakjuban dari saat ke saat, sejak si tokoh alit lahir, diculik katak, diselamatkan ikan, kupu-kupu, dan tikus, dan akhirnya mendapatkan pangeran peri-bunga sebagai pasangannya, seraya si burung biru patah hati menyaksikannya pergi.
Carl Honor pun berubah. Ia menulis buku In Praise of Slowness.
Yang agak kurang ditekankan Honor ialah hubungan gerak yang tak terburu-buru dengan karunia kesunyian dan kebebasan, sesuatu yang telah rusak karena zaman berubah dan manusia resah untuk bekerja dan bekerja. Nietzsche pernah menyebutnya sebagai “kehausan Amerika”. Bujukan-bujukan berlomba cepat (“liquor is quicker”, kata penyair Amerika, Ogden Nash), juga pertukaran.
Dalam proses itu, hilang kemampuan orang menghayati waktu sebagai ketakjuban yang selalu baru. Orang pun terus-menerus berbicara soal “kurang waktu”. Tak ada lagi yang hendak memasuki keheningan “vita meditativa”. Tak ada renungan sebelum tindakan.
Dan lahirlah Twitter, Facebook, san-dek, yang dengan seketika menembakkan kata. Sementara dulu tiap ekspresi yang akan disiarkan harus menempuh prosedur berlapis, ada editor, ada penerbit, ada penyebar, kini semua itu diterabas. Bersaing cepat, berlomba menarik perhatian, bersaing mau diakui, berlomba teriak. Aku menggebrak, maka aku ada.
Kecepatan dan kekuatan bisa efektif seperti peluru. Tapi peluru tak perlu nalar dan tak menumbuhkan tukar pikiran. “Media sosial” akhirnya hanya (mengutip seorang teman yang mengutip Macbeth untuk ini) “full of sound and fury, signifying nothing”.
Maka saya menyukai pagi. Sesekali masih ada sisa mimpi, ingatan akan dongeng ayah, ninabobok ibu, gema di kepala dari sebuah lagu, novel yang semalam hadir dalam kesendirian dan kesunyian dalam karunia kebebasan.
Goenawan Mohamad

“Saya tak pernah merasa merdeka dengan waktu yang dihitung…..”

Kok menusuk tepat di dada hahaha.

Tahun 2016 ini gila sekali. Menjelang akhir tahun kok rasanya makin sulit bernapas (selain memang karena sedang terkena geng batuk-pilek-demam yang bikin susah napas). Jeda ada di mana, ya?